Pages

24 December 2010

"Jancok",apa artinya??

Jangan pandang negatif dulu,teman.....
Ya.... memang kata "jancok" bagi sebagian orang adalah kata kotor.
Tapi,tau apa gak sih sebenernya arti kata ini?
Jangan-jangan bisa ngucapin,tapi gak tau artinya.
Hmmmmmmmmmm........
Sedangkan,orang yang bisa bicara tapi gak tau arti apa yang dikatakannya adalah orang (...).
Nah,daripada anda terjerembab ke dalam lembah kesesatan dan semakin gak ngerti, mari kita ulas.
(Dengan ulasan dari berbagai sumber,baik data maupun wawancara langsung)

Let's begin!!!

Ehm,ehm...
Pasti sudah tak asing lagi dengan kata "jancok",khan?
"Jancok" atau "dancok" adalah sebuah kata khas Surabaya yang telah banyak tersebar hingga meluas ke seantero Indonesia bahkan sudah mendunia. Warga Jawa Timur seperti Surabaya, Malang dll turut andil dalam penyebaran kata ini.

Versi data-data yang ada:

"Jancok" berasal dari kata 'encuk' yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase 'di-encuk' menjadi 'diancok' lalu 'dancok' hingga akhirnya menjadi kata 'jancok'.


Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (=motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dll. Kata jangkrik, jambu adalah salah satu contoh bentuk kata yang lebih halus dari kata jancok.

Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni 'encuk' lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang.

Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) arek-arek Suroboyo.

Kata-kata ini bila digunakan dalam situasi penuh keakraban, akan menjadi pengganti kata panggil atau kata ganti orang. Misalnya, "Yoopo kabarmu, cuk", "Jancok sik urip ae koen, cuk?". Serta orang yang diajak bicara tersebut seharusnya tidak marah, karena percakapan tersebut diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan berjabat tangan dong.(Jadi jangan ucapkan kata "jancok" pada orang yang baru anda kenal.Wah,makna dan artinya pasti beda)

Kata "jancok" juga bisa menjadi kata penegasan keheranan atau komentar terhadap satu hal. Misalnya "Jancok! Ayune arek wedok iku, cuk!", "Jancuk ayune, rek!", "Jancuk eleke, rek", dll. Kalimat tersebut cocok dipakai bila melihat sesosok wanita cantik yang tiba-tiba melintas dihadapan.

Akhiran 'cok' atau 'cuk' bisa menjadi kata seru dan kata sambung bila penuturnya kerap menggunakan kata jancok dalam kehidupan sehari-hari. "Wis mangan tah cuk. Iyo cuk, aku kaet wingi lak durung mangan yo cuk. Luwe cuk.". Atau "Jancuk, maine Arsenal mambengi uelek cuk. Pemaine kartu merah siji cuk.


Versi wawancara:
Menurut mbah juned,seorang yang pernah hidup di masa penjajahan hingga ikut berjuang untuk kemerdekaan, Kata "jancok" yang beliau tahu adalah berasal dari kata "Shodancho" (entah bener ato salah spell-nya).

Kata ini timbul karena kekesalan rakyat kepada keadaan yang saat itu setelah dijajah tentara belanda, kok ya malah dijajah tentara jepang.("Kok gak bebas-bebas negara kita ini?",tegasnya). Saking kecewanya, setiap ada orang yang bersikap tidak berkenan, orang saat itu mengucap "koen kok koyok shodancho?" ("kamu kok seperti shodancho?").

Adaptasi dan modifikasi pengucapan-pun merubah cara pengucapan kata ini, yang asalnya dari "...koyok shodancho..", menjadi "..shodancho..", kemudian menjadi "...dancho...", yang kemudian menjadi "dancok" atau "jancok".

Selain dari mbah juned, ada juga beberapa orang yang membenarkan sejarah ini.(mungkin diantara kalian juga ada yang mengetahui sejarah ini).

Penggunan kata "jancok", sebenarnya bisa bermakna positif dan bisa juga bermakna negatif. Ya seperti pada umumnya, situasi, cara pengucapan, lingkungan, dll bisa mempengaruhi arti dan makna suatu kata.

Jadi, saya kembalikan lagi pada anda. Se-JANCOK apakah anda?
Pengungkapan fakta, tidak selamanya benar. Karena kebenaran hanyalah milik ALLAH dan kita sebagai manusia hanyalah sebagai lahan dosa yang nyata.

No comments:

Post a Comment